Friendship, Romance

Stupid Love (2A)

Halo semua pengunjung blog aneh ini ^_^

Berhubung karena masih dalam suasana lebaran saya ingin mengatakan minal aidin walfaidzin 😀 maafkan lah kesalahan saya yang membuat kalian harus menunggu ff gaje di blog ini -,-

Saya tidak tahu lagi apa yang harus saya katakan, tapi semoga saja kalian memaafkan saya yang selalu tak tepati janji untuk melanjutkan semua ff di blog ini :’)

Baiklah, sebagai perminta maafan saya, saya berikan lanjutan salah satu FF di sini. Selamat membaca 😀

Warning: TYPO

.

.

.

Kicauan suara burung yang berada di luar jendela kamar besar gadis yang sedang terlelap itu terdengar hingga membangunkannya dari alam mimpinya. Gadis yang berada di atas ranjang dengan keadaan tertidur meringkuk itu membuka kedua matanya perlahan. Bola mata hitam nan indah ini menangkap objek menyenangkan untuknya di awal pagi harinya ini. Dapat ia lihat beberapa burung yang berterbangan dari luar jendela kamar yang ia tempati.

Mata sembab yang menangis semalaman itu terlihat begitu lelah ketika ia melihat burung – burung berwarna biru itu yang berkicau tak jelas. Dengan perlahan – kaki pendeknya melangkah keluar dari atas ranjang besar dan nyaman yang ia tempati, mendekati jendela besar di depannya.

Kakinya berhenti tepat didepan jendela besar itu seraya menatap burung – burung yang berterbangan di luar sana. Melihat burung indah itu mengingatkannya pada sahabat baik nya yang selalu berada di samping nya sampai saat ini.

Lee Donghae – nya. Lelaki yang diam – diam dia sukai.

Mengingat bagaimana dahulunya mereka bertemu dan pada akhirnya menjadi teman dekat membuat So eun harus bergantung pada pria tampan itu. Lelaki yang selalu berada di dekatnya dan melakukan apapun padanya. Lelaki yang bisa memberikan apapun untuk nya, dan lelaki yang selalu menghapus luka nya disetiap ia terluka.

Dia mengingat kenangan indahnya bersama Donghae ketika mereka masih berada di waktu kuliah. Lelaki itu kerap kali membantunya dalam segala hal dan dengan senang dia selalu menuruti permintaan So eun apapun itu.

Lee Donghae nya yang begitu baik.

Lee Donghae nya yang begitu sempurna.

Tetapi – Lee Donghae pula lah yang membawa gadis itu untuk berada di tempat seperti ini. Berada dalam kurungan istana pria kejam dan dingin bernama Cho Kyuhyun itu. Bagaimana pun ia memikirkannya – dia tetap sampai pada pikiran bahwa Lee Donghae lah yang membuat ia terkurung pada Kyuhyun.

Bagaimana bisa Donghae begitu tega padanya.

Ketika ia mengetahui bahwa penyebab luka besar di hati gadis ini adalah Cho Kyuhyun. Bagaimana bisa ia memberikan So eun pada Kyuhyun.

Ketika ia berpikir berulang kali, air matanya selalu saja keluar dan hatinya terasa begitu sakit sampai ia kesulitan untuk bernapas. Bahkan dengan memikirkannya saja jauh lebih menyakitkan dari pada ketika Kyuhyun memperkosa nya satu bulan yang lalu. Jauh lebih menyakitkan ketika ia berpikir bahwa Donghae menyerahkannya pada Kyuhyun.

Ya. Gadis ini sudah terjebak di dalam rumah Kyuhyun selama dua minggu lama nya.

.

.

.

Kyuhyun membuka pintu kamar So eun yang berada di dalam rumahnya. Tampak jelas keraguan dan juga rasa canggung ketika ia hendak melangkahkan kakinya memasuki kamar gadis ini. Bagaimana pun juga So eun masih terlalu takut padanya. Tapi dengan helaan napas panjang dan juga mengulang beberapa kalimat membuat pria tampan itu akhirnya memutuskan untuk memasuki kamar So eun.

Dapat ia lihat bahwa gadis itu sedang berdiri membelakanginya seraya melihat pohon besar yang berada tak jauh dari dalam kamar gadis ini. Bukan pohon itu yang menjadi focus si gadis berambut ikal ini tetapi pada burung – burung yang terlihat mengistirahatkan sayap mereka di ranting pohon tersebut.

Suara langkah Kyuhyun yang mendekat menyadarkan So eun akan lamunannya terhadap lelaki yang sampai saat ini belum juga mengunjunginya. Tubuhnya sedikit menegang saat ia mendengar suara langkah Kyuhyun mendekat, dengan perlahan kaki pria itu berhenti melangkah ketika melihat ketegangan dari tubuh So eun.

Sejenak Kyuhyun menarik napas panjangnya sebelum ia bersuara, berusaha untuk membuat suara nya terdengar normal di telinga So eun.

“Bibi Jung sudah selesai memasak” ia menutup kedua matanya ketika kata – kata itu yang keluar dari mulutnya. Merutuki kebodohannya, seharusnya ia mengatakan “Turunlah, kita akan sarapan” atau “Selamat pagi, mau sarapan bersama?” seharusnya kata – kata seperti itu yang keluar.

So eun membalikkan badannya ketika Kyuhyun selesai berbicara, mata sayu gadis ini menangkap sosok Kyuhyun yang sudah sangat rapi dengan pakaian kantor nya. Baru – baru ini So eun mengetahui bahwa Kyuhyun adalah seorang pemilik Winner Group – mengingat ia adalah cucu laki – laki yang mendirikan Winner Group yaitu Cho Hyun Soo.

Lelaki ini memang seorang pekerja keras, fakta lain yang So eun temukan ketika ia tinggal di rumah Kyuhyun selama dua minggu ini, pria itu memang sering sekali keluar dengan perempuan tetapi itu setelah ia menyelesaikan pekerjaannya, bahkan untuk makan sekalipun dia tidak akan ingat ketika ia sedang focus pada pekerjaannya. Setidaknya itulah yang ia ketahui dari bibi Jung – asisten atau pembantu rumah Kyuhyun.

“Aku akan turun sebentar lagi” ujar So eun pelan. Mengetahui maksud dari ucapan Kyuhyun yang seolah mengajaknya untuk sarapan bersama.

Dua minggu dirumah Kyuhyun benar – benar membuatnya tidak nyaman, dia sering sekali ingin keluar tetapi setiap ia berbicara tentang keinginannya untuk pulang dengan cepat Kyuhyun akan mengalihkan pembicaraan dan setiap pria itu berangkat bekerja So eun selalu memikirkan cara untuk melarikan diri, tapi kehadiran bibi Jung yang selalu mengajaknya berbicara dan memperhatikan gerak geriknya membuat ia tak bisa keluar dari istana pria ini.

Dia benar – benar merasa seperti tahanan seorang Cho Kyuhyun.

…..

Seperti hari – hari sebelumnya, mereka melakukan sarapan dengan hening tanpa adanya suara. Yang terdengar hanyalah suara dentingan sendok yang beradu dengan piring mereka. Kyuhyun yang mengunyah sarapannya dengan lahap dan sesekali mata pria ini melirik pada ipad nya untuk memperhatikan saham perusahaannya yang sudah stabil, dan ketika mata elang yang di hiasi dengan kaca mata itu melirik pada So eun yang duduk di seberangnya ia menatap gadis itu dengan kening berkerut ketika mendapati So eun hanya diam tak memakan sarapannya seperti biasa. Gadis itu tampak uring – uringan dan enggan untuk menyuapkan makanan itu kemulut nya.

“Ada yang salah dengan makanannya?” suara Kyuhyun mengagetkan So eun, ia segera mengangkat kepalanya melihat Kyuhyun kemudian ia menggeleng cepat.

“Ti – tidak” gugupnya.

“Lalu kenapa kau tidak memakan sarapan mu?” pria itu bertanya lagi.

Terlihat keraguan di wajah So eun ketika ia hendak menjawab pertanyaan Kyuhyun. Bola matanya kembali menatap kebawah dan bergerak gelisah, takut jawabannya akan membuat Kyuhyun marah.

“A – aku…” ia berhenti sejenak. Kemudian menghela napas dan melanjutkan ucapannya. “Baunya – membuatku mual” dengan pelan ia berkata.

Kyuhyun tampak terdiam, ia memandangi wajah So eun dan sup yang berada di depan gadis itu dengan keheningan. Kemudian pria itu menghela napas pelan seraya mengambil ponselnya yang berada diatas meja. Jari – jari pria itu terlihat lincah mencari nomor seseorang kemudian dengan cepat ia melakukan panggilan terhadap nomor yang ia temukan.

“Oh Hyung – ini aku” ujarnya beberapa saat setelah sambungan teleponnya terangkat oleh seseorang.

“Bisakah kau kerumah ku. Teman ku sedang sakit” ujarnya tanpa melepaskan pandangannya dari So eun.

“Ya, aku ingin kau memeriksanya” ucapnya lagi

“Baiklah” setelah kata itu ia menutup teleponnya dan kembali meletakkan ponselnya diatas meja.

“Shindong Hyung akan datang sebentar lagi” ujar Kyuhyun, kemudian ia kembali memasukkan beberapa kimchi kemulutnya.

So eun tidak mengetahui siapa itu Shindong dan kenapa Kyuhyun memanggil temannya untuk datang kerumah. Dari pembicaraan tadi ia dapat mengira bahwa Shindong itu adalah seorang dokter, apa mungkin dia datang kerumah Kyuhyun untuk memeriksa nya, tapi So eun tak merasakan sakit, dia hanya merasa sedikit mual – itu saja. Bisa dipastikan bahwa dia akan segera sembuh jika ia beristirahat sebentar. Kyuhyun tak perlu harus memanggil dokter untuk memeriksa nya. Setidaknya itulah yang ada di pikiran gadis ini sekarang, dia ingin menolak tetapi ia terlalu takut untuk membantah apa yang dikatakan oleh pria ini.

Shindong memeriksa tubuh So eun yang terlentang di hadapannya, sesekali pria berbadan gemuk itu mengulas senyumnya ketika ia memegang perut rata So eun kemudian memeriksa suhu tubuh kurus gadis ini. Kegiatan itu berlangsung sekitar sepuluh menit. Kyuhyun yang berdiri di belakang Shindong tampak sedikit khawatir terhadap kesehatan gadis ini, bagaimana pun ia harus menjaga So eun tetap sehat – setidaknya itulah janjinya pada sahabat kecilnya itu Lee Donghae.

Selesai dengan pemeriksaannya terhadap tubuh So eun, Shindong berdiri dari duduknya dan menatap gadis ini dengan senyuman lagi, merasa aneh So eun hanya terdiam tak merespon senyuman tulus dari dokter ini. Senyum gadis ini sudah hilang beberapa minggu yang lalu.

“Bagaimana?” Kyuhyun bertanya saat Shindong membereskan peralatan dokter nya. Pria itu tersenyum kecil pada Kyuhyun sebelum menjawab pertanyaan si tuan muda ini.

“Dia baik – baik saja. Hanya sedikit kelelahan”

Dalam hati So eun membenarkan ucapan si dokter. Dia memang baik – baik saja. Tidak ada yang salah dengan nya.

Terlihat kelegaan menyelimuti wajah Kyuhyun. Melihat perubahan raut wajah Kyuhyun tersebut mendatangkan kekehan kecil dari mulut Shindong.

“Kau harus menjaganya dengan baik. Jangan sampai membuatnya kelelahan” ujar Shindong pada Kyuhyun yang di jawab dengan anggukan pria ini. So eun bangun dari tidurnya hendak berdiri untuk mengantarkan si dokter ini keluar dari rumah Kyuhyun.

“Dan kau nona” Shindong beralih pada So eun. Gadis itu terdiam mendengarkan nasehat Shindong terhadapnya.

“Jangan terlalu banyak bergerak, kau bisa membuat bayinya kelelahan” dengan senyuman Shindong berucap pada So eun.

Ketegangan terlihat jelas di wajah Kyuhyun dan So eun. Kedua nya tampak menyerngit mendengar ucapan Shindong yang tidak mereka mengerti.

Bayi?

“Ba – bayi?” suara tercekat So eun terdengar keluar. Matanya terlihat memerah mendengar ucapan Shindong. Dan pernyataan dari si dokter ini kemudian membuat hati gadis ini seolah diremas dengan kencang.

“Ya, kalian tidak mengetahuinya?” melihat tak ada yang menjawab pertanyaannya membuat Shindong kembali bersuara.

“Kemungkinan dia masih berusia tiga minggu. Karena itu kalian harus menjaga nya hati – hati”

So eun merasakan dunia nya terasa gelap saat itu juga, air mata gadis ini terjatuh dan hatinya kembali merasakan sesak. Dengan tubuh bergetar ia kembali mendudukkan tubuhnya diatas ranjang dengan pandangan kosong.

Tak jauh beda dengan So eun, Kyuhyun juga terlihat sangat terkejut, pria itu terlihat seperti orang yang tidak memiliki nyawa saat mendengar bahwa gadis itu sedang hamil. Mengandung bayinya.

Ya, pasti bayi nya.

Tapi ia masih bisa mengendalikan hatinya, dengan senyuman kecil ia melihat Shindong dan mengantar pria itu untuk meninggalkan rumahnya. Dia perlu waktu untuk berbicara dengan So eun.

Mendengar suara pintu yang tertutup tangis gadis ini pecah seketika. Ia menangis dengan suara tertahan seraya memukul pelan perutnya yang masih rata. Merutuki kebodohannya karena membiarkan bayi itu berada dalam tubuh nya. Gadis itu lagi – lagi mengeluarkan air matanya dengan begitu deras. Ia kembali menangis untuk kesekian kalinya.

Lee Donghae. Entah kenapa nama itu sekarang memenuhi isi kepalanya. Dia tahu tidak seharusnya ia memikirkan Donghae disaat seperti ini, tapi untuk sekarang pria yang memiliki nama itu yang dia inginkan saat ini. Yang ia butuhkan untuk sekarang ini. Untuk menenangkannya.

Tanpa sadar mulut tipisnya menggumamkan nama Donghae di sela isak tangisnya.

Bukankah sudah begitu mustahil baginya untuk bersama Donghae. Dia tidak akan mungkin bersama pria itu jika ada kehidupan lain yang mengikatnya dengan pria yang tak ia inginkan.

Kyuhyun membeku mendengar suara isakan itu kembali terdengar olehnya dan juga gumaman kecil yang keluar dari mulut gadis itu membuat hatinya merasakan nyeri yang tak tertahankan. Harus dia akui bahwa dialah yang salah disini, tapi jujur saja dia juga tidak menyesal dengan apa yang ia lakukan pada So eun. Bahkan dengan kehadiran bayi di dalam perut gadis itu membuat ia merasakan kesenangan.

Dia memang egois hanya memikirkan kebahagiaannya tanpa perduli dengan rasa sakit gadis itu. Dia memang egois yang menginginkan wanita orang lain untuk menjadi miliknya.

Dan ketika ia mendengar nama Donghae keluar dari mulut So eun membuat paru – parunya serasa menyempit –merasakan sesak, seperti kehabisan oksigen untuk bernapas.

Dan untuk kali ini dia juga harus kembali egois.

Dengan kasar Kyuhyun membuka pintu kamar tempat So eun berada. Memasang wajah keras nya ketika berhadapan dengan So eun.

“Kita akan menikah”

Dan kalimat yang keluar dari mulut Kyuhyun membuat So eun menutup kedua matanya dengan kepala  yang terasa begitu berdenyut nyeri mendengar kalimat yang tak ia inginkan.

Tak ada jawaban dari gadis ini, dia hanya terus menangis. Tidak begitu perduli lagi dengan kehidupannya saat ini.

Hidup nya sudah hancur. Dikarenakan oleh lelaki ini.

“Bi – bisakah – kita hanya mengguggurkannya” So eun tahu bahwa saat ini pikirannya sudah tidak berjalan dengan normal sehingga ia dengan mudahnya mengatakan kalimat seperti itu. Dia sudah gila.

Kyuhyun menatapnya tak percaya. Kalimat yang keluar dari mulut gadis ini membuat ia begitu murka dan wajahnya terlihat semakin mengeras. Kedua tangannya mengepal ingin melemparkan tinju pada wajah So eun, tapi ia menahan sekuat tenaga amarahnya untuk tidak melukai gadis ini lagi.

“Bagaimana bisa kau mengeluarkan kalimat seperti itu?!” Kyuhyun menaikkan satu oktaf suaranya ketika mendengar kalimat laknat yang keluar dari mulut So eun.

Ya. Bagaimana bisa dia sampai berpikir seperti itu. Dia pasti sudah gila.

“Jangan pernah melukai bayi ku sedikit pun. Jika kau melakukannya aku tidak akan segan untuk membunuh mu” kalimat penuh ancaman itu sama sekali tidak membuat So eun takut. Dia bisa merasakan kemarahan Kyuhyun terhadap nya, juga kemarahannya pada dirinya sendiri karena berpikir untuk menghilangkan nyawa yang berada di dalam perut nya. Air matanya kembali mengalir, menyesali kebodohannya yang sempat berpikir untuk membunuh bayinya.

Ya Tuhan, dia bahkan terdengar lebih kejam dari Cho Kyuhyun karena ingin membunuh nyawa yang tak bersalah.

Dia kembali menangis, menyesali perbuatan bodohnya dan ucapan bodohnya.

“Kita akan menikah. Aku tidak ingin anak ku lahir tanpa seorang ayah”

Setelah mengucapkan kalimat itu Kyuhyun kembali meninggalkan So eun sendirian didalam kamar ini. Pria itu berlalu keluar dari dalam rumahnya, melajukan mobilnya secara cepat. Amarah masih memenuhi dirinya, dia tahu bahwa gadis itu tidak mungkin sungguh – sungguh dengan ucapannya. Tapi tetap saja kalimat yang keluar dari mulut So eun membuat ia begitu marah.

Apa salah bayi itu sampai So eun ingin menghilangkannya.

Disini dialah yang salah, bukan bayinya.

Seharusnya So eun bisa berpikir lebih jernih.

Tapi, bukankah itu wajar Cho Kyuhyun. Gadis itu sedang panic dan ketakutan, wajar jika bisikan setan itu memenuhi isi kepalanya. Terlebih gadis itu cukup terkejut dengan fakta bahwa sebentar lagi ia akan menjadi seorang ibu.

Wajar saja bukan?!

.

.

.

Gadis itu berjalan dengan langkah pelan menyusuri jalanan yang dihiasi dengan toko – toko yang berada di pinggir jalan besar kota Seoul ini. So eun berjalan sendirian seraya memandangi bangunan yang ia lewati, wajah murungnya tampak terlihat menyedihkan, setiap toko bunga yang ia lewati selalu membuat langkah kakinya terhenti kemudian dengan pandangan kosong ia akan menatap bunga – bunga tersebut dan kembali melanjutkan jalannya.

Sejak hari pernikahannya dengan Kyuhyun ditetapkan gadis ini mendapatkan izin dari Kyuhyun untuk keluar dari rumah Kyuhyun, tapi dengan syarat tidak lebih dari dua jam dan sekarang dia kembali keluar dari rumah besar pria itu dengan Kyuhyun yang menjaganya dari jarak jauh. Setiap So eun ingin keluar dari rumahnya, diam – diam Kyuhyun akan mengikuti So eun dari jarak yang tak terlihat oleh gadis itu.

Langkah kaki So eun terhenti ketika ia berada didepan toko sepatu. Mata sayunya menatap pajangan sepatu high heels putih itu yang terpajang dengan indahnya. Tanpa sadar tangannya terulur menyentuh kaca besar yang mengalanginya dengan sepatu indah itu. Mengingatkannya kembali pada Lee Donghae nya.

“Yak Lee Donghae. Tunggu aku!” seruan dari So eun tak dihiraukan oleh Donghae yang masih kesal dengan ulah gadis ini yang mencoret – coret wajahnya ketika ia sedang terlelap di perpustakaan. Ulah jahil gadis ini membuat Donghae kesal dan meninggalkan So eun sendirian tanpa menunggu nya untuk pulang bersama.

Langkah lebar Donghae terhenti ketika ia sudah tidak mendengar teriakan So eun yang memanggil namanya. Dengan cepat Donghae berbalik mencari gadis itu – takut jika sesuatu akan terjadi padanya. Tapi yang ia temukan adalah gadis bercelana jins itu terlihat sedang melihat sesuatu dari balik kaca putih besar yang berada didepan gadis ini. Penasaran dengan apa yang dilihat So eun, akhirnya Donghae menghampiri So eun dan mendapati bahwa gadis ini sedang terpesona dengan kecantikan high heels yang sedang dijadikan pajangan untuk toko ini.

Donghae melihat sepatu yang dikenakan So eun, sepatu usang nya yang sangat legend. Itulah kata gadis ini. Senyum tipis Donghae terukir ketika melihat tatapan So eun yang begitu menginginkan sepatu didepannya.

Menyadari kehadiran Donghae disampingnya, So eun menoleh cepat pada pria ini dan tersenyum lebar pada teman lelakinya ini.

“Donghae –ya. Belikan untuk ku” seperti biasa gadis ini selalu meminta sesuatu pada Donghae jika dia menginginkan sesuatu. Melihat wajah berbinar So eun dia ingin membelikannya saat itu juga pada gadis ini, tapi dia tidak akan melakukannya karena So eun sudah mencoret – coret wajah tampannya.

“Tidak!” tolak Donghae dengan senyum remehnya membuat So eun mengerucutkan bibirnya saat itu juga.

“Yak, jangan begitu pelit pada teman mu sendiri. Ah tidak, bukankah aku kekasih mu?” ujarnya dengan polos membuat senyum Donghae tanpa sadar merekah. So eun memang selalu mengatakan bahwa Donghae adalah kekasihnya jika dia menginginkan sesuatu dan pria itu juga kadang – kadang mengatakan bahwa So eun adalah kekasihnya. Tidak ada yang merasa keberatan akan fakta itu, karena mereka memang sama – sama saling menyukai.

Diam – diam saling menyukai tanpa berani untuk saling mengungkapkan.

“Siapa yang jadi kekasih mu, Hah?” Donghae menyentil dahi gadis ini membuat So eun meringis dan mendesis tidak suka. Tapi dia tidak akan menyerah, dia akan membuat Donghae membelikan high heels itu padanya.

“Lee Donghae belikan untuk ku” ujarnya seraya merengek layaknya anak kecil. Menggoyang – goyangkan ujung baju Donghae dan meminta pria itu membelikannya. Beberapa pejalan yang melihat mereka tampak terkekeh geli melihat tingkah keduanya, dan Donghae tampak begitu malu dengan perlakuan So eun terhadapnya di depan umum seperti ini.

“Baiklah. Akan ku belikan” ujar pria itu pada akhirnya karena tidak tahan dengan tatapan orang – orang terhadap mereka. So eun berseru kegirangan dan melompat kecil mendengar ucapan Donghae tersebut.

“Tapi tidak sekarang”

“Ne?”

Kebahagiaanya memudar saat pria itu melanjutkan kata – katanya lagi.

“Nanti. Saat kau ingin menikah, maka aku akan membelikannya untuk mu” dengan senyuman Donghae menjawab membuat wajah So eun semakin ditekuk karena kesal. Ia memaki pria ini habis – habisan dan memukul lengan Donghae karena ucapan tidak masuk akal pria ini. Saat dia menikah? Bukankah itu masih lama, lagi pula dia juga tidak tahu jika nanti saat ia menikah apakah Donghae akan hadir kepernikahannya. Atau siapa yang mengira jika ternyata bahwa pria ini mungkin yang akan menikahinya.

Ya, siapa yang mengira?

“Kalau begitu kau juga harus memasangkan sepatu itu di kaki ku” serunya lantang.

“Apa?”

“Kau sudah janji. Kau harus memasangkannya”

Mata nya kembali memerah mengingat kenangannya bersama Donghae. Astaga, dia terlihat seperti gadis cengeng yang mudah sekali menangis hanya karena mengingat kenangannya bersama Donghae. Kenangan itu begitu indah, tapi juga begitu tajam bagaikan pisau yang mengiris hatinya sehingga membuat ia beigtu sesak. Melangkahkan kakinya lagi untuk melewati tempat itu kemudian ia berhenti saat mendapati tempat duduk panjang yang berada tak jauh darinya.

Dengan pelan So eun duduk di bangku tersebut dan kepalanya menunduk melihat sepatu sneekers yang ia gunakan. Sepatu legend –nya. Tanpa sadar air matanya kembali mengalir – dan ia menangis lagi seperti orang bodoh.

Layaknya orang bodoh.

Kehadiran seseorang yang langusung berjongkok dihadapannya membuat So eun terkejut terlebih ketika pria itu membuka tali sepatu sneekers nya secara perlahan. Melihat tangan kekar itu dan kepala yang menunduk dihadapannya itu menyadarkan So eun bahwa pria itu adalah pria yang selalu ia tunggu dalam hidupnya. Lee Donghae.

Secara perlahan jari – jari Donghae melepaskan tali yang mengikat disepatu So eun dan menggantikannya dengan sepatu putih high heels yang berada disampingnya, memasangkan sepatu itu pada kaki So eun dalam diam. Baik Donghae maupun So eun tak ada yang berbicara saat pria itu dengan pelannya memakaikan benda itu di kaki So eun yang ternyata ukurannya begitu pas di kaki gadis ini.

So eun menatap Donghae yang masih menunduk di hadapannya. Sepatu itu sudah terpasang di kedua kaki So eun, tapi Donghae belum melepaskan tangannya yang memegang kaki gadis ini. Mereka terdiam cukup lama, seperti mereka berbicara melalui hati masing – masing tanpa perlu untuk saling bertatap muka.

Sebelah tangan So eun terulur ingin menyentuh rambut laki – laki ini, tapi suara Donghae membuat ia menghentikan tangannya yang bergerak.

“Sepatunya terlihat begitu indah” ujarnya pelan memandangi kaki So eun yang berada di depannya. So eun tak menjawab, ia hanya menggumam setuju dengan ucapan Donghae.

Sepatunya memang indah.

Mereka kembali terdiam lagi, membiarkan suara deru mesin mobil dan kenderaan lainnya yang terdengar, keduanya kembali diam membisu dengan segala pikiran yang menghiasi kepala mereka.

So eun ingin mengatakan banyak hal pada Donghae, dia ingin berbicara pada pria ini, tapi dia tidak bisa mengeluarkan suaranya karena tenggorokannya begitu tercekat sekarang ini.

Mata Donghae tampak memerah saat ini, pria itu segera terbang dari China ketika Kyuhyun mengatakan bahwa dia dan So eun akan menikah. Dikarenakan adanya bayi yang hadir dalam tubuh gadis itu.

Dia terpukul, dia sangat terluka mengetahuinya. Sepanjang perjalanan begitu banyak hal yang ia pikirkan saat bertemu So eun nanti, tapi saat ia tiba di Korea yang ia lakukan pertama kali hanya membeli sepatu yang diinginkan oleh gadis itu dahulu dan memasangkannya di kaki So eun.

Selanjutnya dia tidak tahu lagi apa yang harus ia lakukan.

“Apa kau ingin pergi bersama ku?”

Pertanyaan Donghae itu membuat So eun semakin merasakan sakit ketika lelaki itu meminta untuk pergi dengannya. Air matanya terjatuh dan mengenai punggung tangan Donghae yang masih memegang kaki So eun. Tangan kekar itu terlihat bergetar saat merasakan air mata So eun mengenai punggung tangan kanannya.

“Haruskah?” suara seraknya terdengar dan suara isakan itu tak pernah berhenti didengar oleh Donghae.

“Haruskah kita pergi dan meninggalkan semuanya?” air mata nya semakin jatuh setiap ia bersuara.

“Haruskah kita egois memisahkan bayi ini dengan ayahnya?” ia seolah bertanya pada dirinya sendiri.

“Haruskah aku meninggalkan ibu ku dan bersama mu?”

Donghae menutup kedua matanya mendengar ucapan So eun, air mata pria itu terjatuh dan mengenai kaki mungil So eun, ia semakin terisak mengetahui bahwa pria ini juga ikut menangis bersamanya, merasakan sakit yang sama.

Mendengar pertanyaan So eun benar – benar memukul keras hati Donghae. Secara tidak langsung gadis itu menolaknya. Gadis itu tidak bisa berbuat egois seperti itu. Dia tidak bisa meninggalkan semuanya disaat orang tua nya dan  orang tua Kyuhyun bahagia mengetahui pernikahan mereka, tanpa ada yang mengetahui bagaimana sakitnya gadis itu. Dia tidak bisa meninggalkan semuanya, juga bagaimana bisa dia tega memisahkan bayi yang tak bersalah dengan ayah kandung nya. Dia bukan sosok yang egois yang memilih kebahagiannya sendiri dan yang terakhir, dia tidak akan pernah bisa meninggalkan ibu nya dengan memberikan kekecewaan pada wanita paruh baya itu.

Menyadari keadaan mereka saat ini benar – benar membuat Donghae merutuki kebodohannya karena membiarkan So eun terjerat dalam dunia Kyuhyun. Dia tidak tahu bagaimana kehidupan So eun nantinya dengan pria itu, dia tidak mengetahuinya. Dan dia benar – benar menyesal karena membawa So eun kehadapan Cho Kyuhyun sehingga pria itu menjerat gadis ini dengan cara yang berbeda.

“Maafkan aku”

Donghae semakin menunduk meminta maaf pada So eun.

Tubuh So eun semakin bergetar saat mendengar perminta maafan pria ini. Kenangan akan kebersamaan mereka kembali terulang di ingatannya. Ketika Donghae membuat kesalahan sehingga gadis ini menangis – Donghae selalu menyesal dan menundukkan kepalanya di hadapan So eun agar  gadis ini dapat memukulnya. Tapi yang terjadi So eun selalu mengusap kepala nya lembut dan berkata “Aku sudah memaafkan mu” dengan senyuman yang menghiasi wajahnya. Memperlihatkan deretan giginya sehingga Donghae akan ikut tersenyum dan berhenti merasa bersalah.

Tapi untuk sekarang ini dia tidak tahu apakah dia bisa tersenyum pada Donghae seperti dulu. Tangan kanan So eun terangkat untuk menyentuh kepala Donghae dan mengusapnya lembut, tapi sungguh dia tidak sanggup melakukannya karena ketika ia melakukannya maka ia harus tersenyum pada Donghae dan untuk saat ini dia tidak bisa memberikan senyum nya pada siapapun.

Dengan lembut So eun mengusap kepala Donghae dan mendiamkannya sejenak disana. Dia tidak bisa bersuara, mata nya terus menatap wajah Donghae yang masih menunduk. Pria itu bahkan belum memperlihatkan wajahnya pada So eun sejak ia datang dan menghampiri gadis ini. Dia terlalu takut memperlihatkan wajah pecundangnya pada gadis ini. Karena tidak bisa mempertahankan gadis yang begitu ia cintai.

Mereka tidak pernah menyadari bahwa Cho Kyuhyun menyaksikan kejadian itu dengan hatinya yang terasa sesak. Harus dia akui bahwa dia terlihat marah ketika Donghae menghampiri wanita yang akan menjadi istrinya – tapi melihat tatapan terluka kedua nya membuat ia sadar bahwa yang seharusnya marah disini bukanlah dia, melainkan pria yang masih berlutut dihadapan calon istrinya itu.

Mereka terlihat seperti orang bodoh. Ketiganya terlihat begitu bodoh dengan cinta yang mereka miliki.

Lee Donghae dengan cinta bodohnya terhadap So eun karena tak bisa mempertahankan gadis ini, dan So eun yang akan menikah dengan pria lain tanpa bisa mencintai orang yang akan menjadi suaminya itu kemudian Cho Kyuhyun yang mencintai gadis itu dan mengikatnya dengan cara yang salah. Dia akan menikah dengan wanita yang tak bisa ia miliki hati nya.

Mereka tampak seperti sekumpulan orang idiot yang tidak pernah mengerti apa arti cinta itu sebenarnya.

 

Advertisements

53 thoughts on “Stupid Love (2A)”

  1. Aduuuuh nyesek:(( kenapasi harus kaya giniiii.
    Tapi disatu sisi bersyukur Kyuhyun udah punya rasa dengan So Eun.
    Aku penasaran awal mula yang pas Januari 2001 itu kejadian apa ya?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s